Minggu, 04 Maret 2012

surat masa depan


Bandung, 13 Maret 2020

Yth. Wiwiek Septiani, S.Pd
Pekalongan
Assalamualaikum wr.wb.
Bagaimana kabar ibu sekarang? Semoga baik-baik saja. Saya murid ibu di kelas XII IPA 1 tahun ajaran 2011/2012. Mungkin saya termasuk murid yang nakal waktu itu.
Sekarang saya telah bekerja pada perusahaan EMCO. Panjang ceritanya hingga saya dapat bekerja di sana. Suatu keajaiban bahwa saya dapat bekerja di sana. Tidak pernah sedikitpun terbayang oleh saya bahwa saya akan bekerja di sana. Sebulan yang lalu saya diangkat sebagai manager personalia. Dari rencana hidupku, posisi ini adalah pencapaian tertinggi saya dalam dunia kerja. Setelah pencapaian ini, saya berencana untuk segera melangsungkan pernikahan saya.
Setelah lulus SMA, saya melanjutkan di ITB. Saya benar-benar tidak menyangka dapat diterima di sana. Padahal, saya sempat putus asa saat saya tidak menemukan nama saya di daftar penerima bidikmisi 2012. Namun , saya sangat beruntung karena memiliki seorang sahabat yang mampu menyemangati saya saat saya benar-benar hilang arah. Ia selalu dan selalu menghibur dan menyemangati saya bahwa saya masih memiliki kesempatan agar dapat memasuki kampus ITB yaitu melalui SNMPTN tulis. Dia selalu menyemangati saya, tidak pernah merasa bosan-bosan. Akhirnya, saya berangkat juga. Waktu itu saya mengikuti SNMPTN tulis dengan hati yang tidak berharap banyak. Saya mengikuti kemaunannya dan  mengikutinya hanya merasa untuk membalas budi baiknya kepadaku.
Pada waktu itu saya memilih lokasi di semarang. Berbekal tekad yang kuat, saya berangkat dengan diantarkan sahabat saya. Sepanjang perjalanan, dia terus menyemangati saya dengan kata-kata yang  membangun jiwa. Sesampainya di lokasi ujian, ia mengarahkan saya ke ruangan dimana saya akan melaksanakan ujian tertulis tersebut. Ternyata, sebelum saya   datang ke tempat tersebut dia telah survei terlebih dahulu. Saya memasuki ruang tes dengan tenang. Ketika lembar soal dibagikan, jantungku berdegub kencang. Saya mulai membaca satu per satu soal yang ada. Soal yang ada benar-benar membuatku panik. Saya tidak menguasai materi yang diujikan. Berkali-kali saya mencoba mengerjakan namun tetap tidak ketemu hasilnya. Hampir 60% saya tidak dapat menemukan jawaban dari soal tersebut. Saya hanya berdoa agar Tuhan memberi keajaiban kepada saya. Saya benar-benar putus asa. Saya berjalan lemas saat saya keluar dari ruangan test tersebut. Saya tidak mampu memandang sahabat saya yang rela mengantar dan menyemangati saya. Dia menunggu di bawah pohon dengan penuh harap. Melihat sikap saya saat keluar dari ruangan tes, ia langsung menghampiriku dan menanyakan bagaimana saya mengerjakan test tersebut. Melihat saya hanya diam dan hanya memandangnya dengan tatapan yang seolah mengatakan “ Aku gagal “ dia  tak membahas hal itu lagi. Dia menghiburku dengan mengajak saya keliling Kota Semarang. Suasana hati saya sedikit terhibur dengan keindahan kota ini dan canda tawa yang keluar dari sahabat saya. Di perjalanan pulang, ia kembali menyemangati saya. Saya merasa mendapat energi positif kembali dan memicu semangat juang saya yang hampir mati.
Hari kedua tes SNMPTN tulis, entah apa yang saya pikirkan. Saya merasa sudah sangat siap untuk menerima kenyataan bahwa aku tidak akan diterima disana. Saya datang ketempat ujian dengan di antar sahabatku lagi. Namun kali ini saya datang hanya untuk menghargai usaha sahabatku yang selama ini telah menyemangatiku dan membantuku berulang kali. Saat hari pengumuman tiba, sungguh tidak disangka-sangka, saya lolos dan berhasil memasuki kampus ganesha tersebut.
Saya melihat sahabatku sampai meneteskan air mata bahagianya saat melihat bahwa saya lolos seleksi. Kami berdua merayakannya dengan makan di salah satu restoran di Semarang. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan yang telah mengabulkan permohonanku dan telah mengirimkan sahabat sebaik dia kepada saya.
Seminggu kemudian, dia datang ke rumah saya untuk mengajaku mencari tempat tinggal di Bandung. Tapi saya pikir, saya ingin tinggal di pesantren saja. Disamping kuliah, saya dapat mendapat ilmu agama sebagai tambahan. Kebetulan, dia tahu tempat yang cocok. Ia mengajak saya ke tempat saudaranya yang mempunyai kenalan yayasan pondok pesantren di Bandung. Akhirnya, saya akan tinggal di pesantren selama saya kuliah di Bandung.
Alhamdulillah ,Saya wisuda tepat waktu, saat itu sahabatku menghadiri acara tersebut.saya tidak menyangka setelah acara tersebut selesai, dia datang ke rumahku untuk melamar saya. Dengan pertimbangan orang tua, saya menerimanya. Kami akan melangsungkan pernikahan kami pada bulan oktober nanti. Maka dari itu, saya sangat terhormat apabila ibu bersedia datang pada acara pernikahan kami. Waktu saya kembali ke Pekalongan saya bertemu dengan teman sahabat lama saya. Ternyata banyak yang telah menjadi orang sukses. Seperti Diyah Fatwati Arifah, Khotimatus Sholihah, Maria Ulfah. Diyah sekarang telah menjadi psikolog, Khotimatus telah menjaji guru di salah satu SMA swasta dan sekarang masih hamil tujuh bulan, sedangkan Maria sudah mempunyai calon tunangan. Saya bertemu dia saat mencari buku di Smarang. Dulu waktu kami masih duduk di kelas XII, kami sering membicarakan ibu. Kami sangat mengidolakan sikap keibuan ibu. Sekian surat dari saya, apabila ada salah kata mohon dimaafkan
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Salam hormat saya,


Eva Novitalia







Nama : Eva Novitalia
Alamat            : Ds.Randumuktiwren, Rt 03/Rw 01 no.78
Bojong- Pekalongan
Tampat, Tanggal lahir : Pekalongan, 06 Oktober 1994


Tidak ada komentar:

Posting Komentar