Bandung,
13 Maret 2020
Yth. Wiwiek
Septiani, S.Pd
Pekalongan
Assalamualaikum
wr.wb.
Bagaimana
kabar ibu sekarang? Semoga baik-baik saja. Saya murid ibu di kelas XII IPA 1
tahun ajaran 2011/2012. Mungkin saya termasuk murid yang nakal waktu itu.
Sekarang
saya telah bekerja pada perusahaan EMCO. Panjang ceritanya hingga saya dapat
bekerja di sana. Suatu keajaiban bahwa saya dapat bekerja di sana. Tidak pernah
sedikitpun terbayang oleh saya bahwa saya akan bekerja di sana. Sebulan yang
lalu saya diangkat sebagai manager personalia. Dari rencana hidupku, posisi ini
adalah pencapaian tertinggi saya dalam dunia kerja. Setelah pencapaian ini,
saya berencana untuk segera melangsungkan pernikahan saya.
Setelah
lulus SMA, saya melanjutkan di ITB. Saya benar-benar tidak menyangka dapat
diterima di sana. Padahal, saya sempat putus asa saat saya tidak menemukan nama
saya di daftar penerima bidikmisi 2012. Namun , saya sangat beruntung karena
memiliki seorang sahabat yang mampu menyemangati saya saat saya benar-benar hilang
arah. Ia selalu dan selalu menghibur dan menyemangati saya bahwa saya masih
memiliki kesempatan agar dapat memasuki kampus ITB yaitu melalui SNMPTN tulis.
Dia selalu menyemangati saya, tidak pernah merasa bosan-bosan. Akhirnya, saya
berangkat juga. Waktu itu saya mengikuti SNMPTN tulis dengan hati yang tidak
berharap banyak. Saya mengikuti kemaunannya dan mengikutinya hanya merasa untuk membalas budi
baiknya kepadaku.
Pada
waktu itu saya memilih lokasi di semarang. Berbekal tekad yang kuat, saya
berangkat dengan diantarkan sahabat saya. Sepanjang perjalanan, dia terus
menyemangati saya dengan kata-kata yang
membangun jiwa. Sesampainya di lokasi ujian, ia mengarahkan saya ke
ruangan dimana saya akan melaksanakan ujian tertulis tersebut. Ternyata, sebelum
saya datang ke tempat tersebut dia
telah survei terlebih dahulu. Saya
memasuki ruang tes dengan tenang. Ketika lembar soal dibagikan, jantungku
berdegub kencang. Saya mulai membaca satu per satu soal yang ada. Soal yang ada
benar-benar membuatku panik. Saya tidak menguasai materi yang diujikan.
Berkali-kali saya mencoba mengerjakan namun tetap tidak ketemu hasilnya. Hampir
60% saya tidak dapat menemukan jawaban dari soal tersebut. Saya hanya berdoa
agar Tuhan memberi keajaiban kepada saya. Saya benar-benar putus asa. Saya
berjalan lemas saat saya keluar dari ruangan test tersebut. Saya tidak mampu
memandang sahabat saya yang rela mengantar dan menyemangati saya. Dia menunggu
di bawah pohon dengan penuh harap. Melihat sikap saya saat keluar dari ruangan
tes, ia langsung menghampiriku dan menanyakan bagaimana saya mengerjakan test
tersebut. Melihat saya hanya diam dan hanya memandangnya dengan tatapan yang
seolah mengatakan “ Aku gagal “ dia tak membahas
hal itu lagi. Dia menghiburku dengan mengajak saya keliling Kota Semarang.
Suasana hati saya sedikit terhibur dengan keindahan kota ini dan canda tawa
yang keluar dari sahabat saya. Di perjalanan pulang, ia kembali menyemangati
saya. Saya merasa mendapat energi positif kembali dan memicu semangat juang
saya yang hampir mati.
Hari
kedua tes SNMPTN tulis, entah apa yang saya pikirkan. Saya merasa sudah sangat
siap untuk menerima kenyataan bahwa aku tidak akan diterima disana. Saya datang
ketempat ujian dengan di antar sahabatku lagi. Namun kali ini saya datang hanya
untuk menghargai usaha sahabatku yang selama ini telah menyemangatiku dan
membantuku berulang kali. Saat hari pengumuman tiba, sungguh tidak
disangka-sangka, saya lolos dan berhasil memasuki kampus ganesha tersebut.
Saya
melihat sahabatku sampai meneteskan air mata bahagianya saat melihat bahwa saya
lolos seleksi. Kami berdua merayakannya dengan makan di salah satu restoran di Semarang.
Saya sangat bersyukur kepada Tuhan yang telah mengabulkan permohonanku dan
telah mengirimkan sahabat sebaik dia kepada saya.
Seminggu
kemudian, dia datang ke rumah saya untuk mengajaku mencari tempat tinggal di
Bandung. Tapi saya pikir, saya ingin tinggal di pesantren saja. Disamping
kuliah, saya dapat mendapat ilmu agama sebagai tambahan. Kebetulan, dia tahu
tempat yang cocok. Ia mengajak saya ke tempat saudaranya yang mempunyai kenalan
yayasan pondok pesantren di Bandung. Akhirnya, saya akan tinggal di pesantren
selama saya kuliah di Bandung.
Alhamdulillah ,Saya
wisuda tepat waktu, saat itu sahabatku menghadiri acara tersebut.saya tidak
menyangka setelah acara tersebut selesai, dia datang ke rumahku untuk melamar
saya. Dengan pertimbangan orang tua, saya menerimanya. Kami akan melangsungkan
pernikahan kami pada bulan oktober nanti. Maka dari itu, saya sangat terhormat
apabila ibu bersedia datang pada acara pernikahan kami. Waktu saya kembali ke
Pekalongan saya bertemu dengan teman sahabat lama saya. Ternyata banyak yang
telah menjadi orang sukses. Seperti Diyah Fatwati Arifah, Khotimatus Sholihah,
Maria Ulfah. Diyah sekarang telah menjadi psikolog, Khotimatus telah menjaji
guru di salah satu SMA swasta dan sekarang masih hamil tujuh bulan, sedangkan
Maria sudah mempunyai calon tunangan. Saya bertemu dia saat mencari buku di
Smarang. Dulu waktu kami masih duduk di kelas XII, kami sering membicarakan
ibu. Kami sangat mengidolakan sikap keibuan ibu. Sekian surat dari saya,
apabila ada salah kata mohon dimaafkan
Wassalamu’alaikum
wr.wb.
Salam hormat saya,
Eva Novitalia

Nama
: Eva Novitalia
Alamat : Ds.Randumuktiwren, Rt 03/Rw 01
no.78
Bojong-
Pekalongan
E-mail : ji_epha@rocketmail.com
Tampat, Tanggal lahir : Pekalongan, 06 Oktober 1994
Tidak ada komentar:
Posting Komentar