Selasa, 07 Agustus 2012
Minggu, 04 Maret 2012
Ant and the Honey
Ant and the Honey
By:
There once lived a little ant that was no one very special.
It was just one of those worker types that would go out from the Nest with the
rest and join in the stream of ants, the Way. Like every worker it would find
some choice little bits of food and then struggle with its load to carry back
to the Queen.
Everyday from dawn to dusk the same.
Then one day the ant noticed something strange. It seemed as
though while many were leaving in search of food as usual, fewer appeared to be
returning as the day progressed. It shrugged this observation away immediately
and went out into the Way with its fellow workers.
As it scurried along with its antennae waving about, out of
the corner of its eyes it saw a huge tunnel appear from out of the sky, touch
the ground to its left where several other ants had been scurrying.
Then it disappeared, along with the other ants.
In a panic it stopped several of its mates and said:
‘Stop! There is something wrong here.’
Just as the others were about to ask what exactly it
referred to, several ants came marching up with golden droplets in their
pincers.
’Wrong!?’ said the leader of this group. ‘Only a fool would
say there is something wrong here. Look at all this honey we have. We have hit
the Mother Lode! The Queen will be so pleased.’
‘But I saw something come out of the sky and the next moment
a bunch of us were gone,’ said the ant.
However, no one stayed to listen; off went its companions to
get some of that honey, while the others raced back with their sweet prize.
‘Well, maybe I was just imagining it,’ the ant reasoned to
itself.
And off it raced to reach the honey.
Yet no sooner had it began, again it saw the tunnel from the
sky come down and its shadow fall over another group of ants. And then the
tunnel and the ants were gone.
With great panic the ant tried to stop the others racing
ahead. Yet now the Way flowed with excited ants that could think of nothing
else but that honey. The ant desperately tried to slow the other workers in order
to explain to them what it saw. None slowed. They crashed into the ant or just
ran over it, ignoring its urgent pleas.
Finally, one of the soldier ants came up, twice as large as
the little worker ant, with its huge mandibles.
The soldier will listen, the worker ant said to itself.
‘What are you doing blocking the way?’ said the soldier ant
to the worker. ‘Out of the way, you fool, there is honey ahead.’
‘Wait! You don’t understand. Something terrible is
happening. Honey is not ahead. It’s death! Death, I tell you! We must all go
back!’
‘You are a mad ant. And madness has no place in the Nest. If
you do not cease such nonsense and get back to work, it will indeed be death
for you!’
The little worker continued along the Way, out of respect
for those mandibles; yet it no longer looked straight ahead.
Constantly it gazed skyward. Searching.
Until the ant saw it come again.
However this time it saw not only the tunnel, but to where
the tunnel lead. And indeed it lead to death; for the ant knew now what it was.
‘Go back! Go back! An anteater! Death is here! Go back!’ it
yelled while moving out of the Way.
But the Way was racing as news had reached the Nest. There
was only one thought of the Nest--the honey!
And the little worker watched them all disappear up the dark
tunnel.
+You
Search
Images
Videos
Maps
News
Shopping
Gmail
More
Sign in
We're changing our privacy policy and terms. This stuff
matters.Learn moreDismiss
Translate
From: English - detected
To: Indonesian
English
Spanish
French
Indonesian
English
Spanish
Ant dan Madu yang
Oleh:
Ada pernah tinggal seekor semut kecil yang tidak ada yang
sangat istimewa. Itu hanya salah satu jenis pekerja yang akan keluar dari
Sarang dengan yang lain dan bergabung dalam arus semut, Jalan. Seperti setiap
pekerja akan menemukan beberapa bit sedikit pilihan makanan dan kemudian
berjuang dengan beban untuk membawa kembali ke Ratu.
Setiap hari dari pagi sampai sore sama.
Kemudian suatu hari semut melihat sesuatu yang aneh.
Seolah-olah sementara banyak meninggalkan untuk mencari makan seperti biasa,
kurang tampak kembali sebagai hari berlangsung. Ini mengangkat bahu pengamatan
ini pergi dengan segera dan keluar ke Jalan dengan sesama pekerja.
Seperti bergegas bersama dengan antenanya melambaikan
tentang, dari sudut matanya ia melihat sebuah terowongan besar muncul dari luar
langit, menyentuh tanah ke kiri di mana semut lain telah beberapa bergegas.
Lalu menghilang, bersama dengan semut lain.
Dalam kepanikan itu berhenti beberapa teman dan berkata:
'Stop! Ada sesuatu yang salah di sini. "
Sama seperti yang lainnya hendak bertanya apa sebenarnya itu
disebut, beberapa semut datang berbaris dengan tetesan emas di penjepit mereka.
'Salah!? "Kata pemimpin kelompok ini. "Hanya orang
bodoh yang akan mengatakan ada sesuatu yang salah di sini. Lihatlah semua ini
madu yang kita miliki. Kami telah memukul Ibu Lode! Sang Ratu akan sangat
senang. "
"Tapi aku melihat sesuatu datang dari langit dan saat
berikutnya sekelompok dari kami pergi," kata semut.
Namun, tidak ada yang tinggal untuk mendengarkan, pergilah
sahabat untuk mendapatkan beberapa madu itu, sementara yang lain bergegas
kembali dengan hadiah manis mereka.
'Yah, mungkin aku hanya berkhayal,' beralasan semut itu
sendiri.
Dan dari itu berlomba untuk mencapai madu.
Namun tak lama setelah itu dimulai, sekali lagi melihat
terowongan dari langit turun dan jatuh bayangannya di atas yang lain sekelompok
semut. Dan kemudian terowongan dan semut pergi.
Dengan panik besar semut mencoba menghentikan orang lain
balap depan. Namun sekarang Jalan mengalir dengan gembira bahwa semut dapat
memikirkan hal lain kecuali bahwa madu. Semut berusaha keras untuk memperlambat
pekerja lain untuk menjelaskan kepada mereka apa yang dilihatnya. Tidak ada
melambat. Mereka menabrak semut atau hanya berlari di atasnya, mengabaikan
permohonan mendesak.
Akhirnya, salah satu semut prajurit datang, dua kali lebih
besar semut pekerja kecil, dengan rahang yang besar.
Tentara itu akan mendengarkan, semut pekerja mengatakan pada
dirinya sendiri.
'Apa yang kamu lakukan memblokir jalan? "Kata semut
prajurit untuk pekerja. "Minggir, tolol, ada madu di depan. '
'Tunggu! Anda tidak mengerti. Sesuatu yang mengerikan
terjadi. Madu bukanlah depan. Ini kematian! Kematian, saya memberitahu Anda!
Kita semua harus kembali! "
'Kamu adalah semut gila. Dan kegilaan tidak memiliki tempat
dalam Nest. Jika Anda tidak menghentikan omong kosong tersebut dan kembali ke pekerjaan,
itu memang akan mati untuk Anda! '
Pekerja kecil itu terus sepanjang jalan, untuk menghormati
mereka rahang, namun tidak lagi memandang lurus ke depan.
Terus-menerus itu menatap ke langit. Pencarian.
Sampai semut melihatnya datang lagi.
Namun kali ini tidak hanya melihat terowongan, tapi ke mana
memimpin terowongan. Dan sesungguhnya menyebabkan kematian, karena semut itu
tahu sekarang apa itu.
'Kembali! Kembali! Tenggiling Sebuah! Kematian ada di sini!
Kembali! 'Itu berteriak sambil bergerak dari Jalan.
Tapi Jalan berpacu sebagai berita telah mencapai Nest. Hanya
ada satu pikiran dari Sarang - madu!
Dan pekerja sedikit memperhatikan mereka semua menghilang
sampai terowongan gelap.
The Mousedeer Stole the Cucumbers
Long ago in Java island, lived a famous animal, the
mousedeer. The mousedeer was famous of his cleverness, that he could always
escape from troubles with his bright minds. The mousedeer’s favourite food was
the cucumber. He loved to eat juicy cucumbers a lot, but the bad thing was he
did not want to grow it himself, he liked to steal them from the farmers.
The farmers disliked the mousedeer very much, since every
time he wanted to harvest his cucumbers, the mousedeer had eaten them that the
farmer could not get as many as he wanted. So that morning, before the farmer
set out to his farm, he made a plan to catch the mousedeer with his wife.
That night, the farmer and his wife made a scarecrow. When
they had completed the scarecrow, the farmer put a lot of glue on the
scarecrow’s shirt and took it to the middle of the farm and put him there. This
time, the farmer was sure, he was able to catch the naughty mousedeer.
Very early in the next morning, the mousedeer had already
arrived in the farm. He was very surprised to see the farmer was already there.
He did not know that it was only a scarecrow. So he was hiding behind the
trees, and waited for the farmer to go away first from the farm before he came
and took all the cucumbers he wanted. He waited for a long time, until he grew
impatient. It was like the juicy cucumbers in th farm were calling his name to
take them away with him. So he decided to come closer to the farm.
The more he looked at the ‘farmer’, the more he realized
that it was not the farmer who stood there all along. It was just a scarecrow
and did not move at all. The mousedeer was very angry for he was cheated. He
approached the scarecrow and kicked the scarecrow. Remember, the farmer had
already added some glue on the scarecrow’s body that made it very sticky.
When the mousedeer kicked the scarecrow, he could not let
his feet of the scarecrow’s body. The mousedeer was panic. The harder he
kicked, the stickier it got to his legs. Finally, the mousedeer was strapped to
the scarecrow’s body. He couldn’t free himself. He cried and cried for help,
but no one was there to help. When the farmer heard his cry, he quickly went to
his farm and caught the mousedeer. No matter how the mousedeer begged for mercy
and to let him go, the farmer refused to set him free.
So, that was how the farmer caught the mousedeer who was
famous for his brain.
Mousedeer Para Mencuri Ketimun
Dulu di pulau Jawa, tinggal hewan yang terkenal, mousedeer
tersebut. Mousedeer ini terkenal kecerdikannya, bahwa ia selalu bisa melarikan
diri dari masalah dengan pikiran yang cerah. Mousedeer, makanan favorit AOS
adalah mentimun. Dia suka makan ketimun berair banyak, tapi yang buruk adalah
ia tidak ingin tumbuh sendiri, dia suka mencuri mereka dari petani.
Para petani menyukai mousedeer sangat banyak, karena setiap
kali dia ingin memanen mentimun nya, mousedeer telah memakan mereka bahwa
petani tidak bisa mendapatkan sebanyak yang ia inginkan. Jadi pagi itu, sebelum
petani berangkat untuk pertanian, ia membuat rencana untuk menangkap mousedeer
dengan istrinya.
Malam itu, petani dan istrinya membuat orang-orangan sawah.
Ketika mereka telah menyelesaikan orangan sawah, petani menempatkan banyak lem
pada, orang-orangan sawah kemeja AOS dan membawanya ke tengah-tengah peternakan
dan menempatkan dia di sana. Kali ini, petani yakin, dia mampu menangkap
mousedeer nakal.
Pagi-pagi berikutnya, mousedeer tersebut telah tiba di
ladang. Dia sangat terkejut melihat petani sudah ada di sana. Dia tidak tahu
bahwa hanya orang-orangan sawah. Jadi dia bersembunyi di balik pohon, dan menunggu
petani pergi pertama dari peternakan sebelum ia datang dan mengambil semua
ketimun yang ia inginkan. Dia menunggu waktu yang lama, sampai ia menjadi tidak
sabar. Itu seperti mentimun di lahan berair th memanggil namanya untuk membawa
mereka pergi dengan dia. Jadi dia memutuskan untuk datang lebih dekat dengan
peternakan.
Semakin banyak ia melihat, Äòfarmer, Ao, semakin ia
menyadari bahwa bukan petani yang berdiri di sana selama ini. Itu hanya
orang-orangan sawah dan tidak bergerak sama sekali. Mousedeer itu sangat marah
karena ia ditipu. Ia mendekati orang-orangan sawah dan menendang orang-orangan
sawah. Ingat, petani telah menambahkan beberapa lem pada tubuh, orang-orangan
sawah AOS yang membuat sangat lengket.
Ketika mousedeer menendang orang-orangan sawah, ia tidak
bisa membiarkan kakinya tubuh, orang-orangan sawah AOS. Mousedeer itu panik.
Semakin keras ia menendang, yang lengket itu sampai ke kakinya. Akhirnya,
mousedeer itu diikatkan ke orang-orangan sawah, AOS tubuh. Dia tak bisa, AOT
bebas sendiri. Dia menangis dan menangis minta tolong, tapi tidak ada yang ada
untuk membantu. Ketika petani mendengar teriakan, ia cepat pergi ke ladangnya
dan menangkap mousedeer tersebut. Tidak peduli seberapa mousedeer yang memohon
belas kasihan dan membiarkan dia pergi, petani menolak untuk membebaskannya.
Jadi, itu bagaimana petani menangkap mousedeer yang terkenal
karena otaknya.
The Story of Sangkuriang and Tangkuban Perahu Mountain
Once, there was a kingdom in Priangan Land. Lived a happy
family. They were a father in form of dog,his name is Tumang, a mother which
was called is Dayang Sumbi, and a child which was called Sangkuriang.
One day, Dayang Sumbi asked her son to go hunting with his
lovely dog, Tumang. After hunting all day, Sangkuriang began desperate and
worried because he hunted no deer. Then he thought to shot his own dog. Then he
took the dog liver and carried home.
Soon Dayang Sumbi found out that it was not deer lever but
Tumang's, his own dog. So, She was very angry and hit Sangkuriang's head. In
that incident, Sangkuriang got wounded and scar then cast away from their home.
Years go bye, Sangkuriang had travel many places and finally
arrived at a village. He met a beautiful woman and felt in love with her. When
they were discussing their wedding plans, The woman looked at the wound in
Sangkuriang's head. It matched to her son's wound who had left severall years
earlier. Soon she realized that she felt in love with her own son.
She couldn't marry him but how to say it. Then, she found
the way. She needed a lake and a boat for celebrating their wedding day.
Sangkuriang had to make them in one night. He built a lake. With a dawn just
moment away and the boat was almost complete. Dayang Sumbi had to stop it.
Then, she lit up the eastern horizon with flashes of light. It made the cock
crowed for a new day.
Sangkuriang failed to marry her. She was very angry and
kicked the boat. It felt over and became the mountain of Tangkuban Perahu
Bandung.
Kisah Sangkuriang dan Gunung Tangkuban Perahu
Dulu, ada sebuah kerajaan di Tanah Priangan. Tinggal
keluarga bahagia. Mereka adalah ayah dalam bentuk anjing, namanya Tumang,
seorang ibu yang disebut adalah Dayang Sumbi, dan seorang anak yang disebut
Sangkuriang.
Suatu hari, Dayang Sumbi meminta anaknya untuk pergi berburu
dengan anjing kesayangannya, Tumang. Setelah berburu seharian, Sangkuriang
mulai putus asa dan khawatir karena ia diburu rusa tidak. Lalu ia berpikir
untuk menembak anjing sendiri. Kemudian ia mengambil hati anjing dan dibawa
pulang.
Segera Dayang Sumbi menemukan bahwa itu bukan rusa tuas tapi
itu Tumang, anjing sendiri. Jadi, Dia sangat marah dan memukul kepala
Sangkuriang itu. Dalam insiden itu, Sangkuriang terluka dan mendapat bekas luka
kemudian dilemparkan jauh dari rumah mereka.
Tahun pergi tinggal, Sangkuriang telah melakukan perjalanan
banyak tempat dan akhirnya tiba di sebuah desa. Dia bertemu seorang wanita
cantik dan merasa jatuh cinta padanya. Ketika mereka sedang membicarakan
rencana pernikahan mereka, Wanita itu menatap luka di kepala Sangkuriang itu.
Ini cocok dengan luka anaknya yang telah meninggalkan severall tahun
sebelumnya. Segera ia menyadari bahwa ia merasa jatuh cinta pada anaknya
sendiri.
Dia tidak bisa menikah dengannya tetapi bagaimana
mengatakannya. Kemudian, ia menemukan jalan. Dia membutuhkan sebuah danau dan
perahu untuk merayakan hari pernikahan mereka. Sangkuriang harus membuat mereka
dalam satu malam. Dia membangun sebuah danau. Dengan fajar hanya saat pergi dan
perahu hampir selesai. Dayang Sumbi harus menghentikannya. Kemudian, dia
menerangi horison bagian timur dengan kilatan cahaya. Hal itu membuat ayam
berkokok untuk hari baru.
Sangkuriang gagal untuk menikahinya. Dia sangat marah dan
menendang perahu. Rasanya lebih dan menjadi gunung Tangkuban Perahu Bandung.
The Legend of Surabaya
A long time ago in East Java there were two strong animals,
Sura and Baya. Sura was a shark and Baya was a crocodile. They lived in a sea.
Actually, they were friends. But when they were hungry, they were very greedy.
They did not want to share their food. They would fight for it and never stop
fighting until one of them gave up.
It was a very hot day. Sura and Baya were looking for some
food. Suddenly, Baya saw a goat.
“Yummy, this is my lunch,” said Baya.
“No way! This is my lunch. You are greedy! I had not eaten
for two days!” said Sura.
Then Sura and Baya fought again. After several hours, they
were very tired. Sura had a plan to stop their bad behavior.
“I’m tired of fighting, Baya,” said Sura.
“Me too. What should we do to stop fighting? Do you have any
idea?” asked Baya.
“Yes, I do. Let’s share our territory. I live in the water,
so I look for food in the sea. And you live on the land, right? So, you look
for the food also on the land. The border is the beach, so we will never meet
again. Do you agree?” asked Sura.
“Hmm... let me think about it. OK, I agree. From today, I
will never go to the sea again. My place is on the land,” said Baya.
Then they both lived in the different places. But one day,
Sura went to the land and looked for some food in the river. He was very hungry
and there was not much food in the sea. Baya was very angry when he knew that
Sura broke the promise.
“Hey, what are you doing here? This is my place. Your place
is in the sea!”
“But, there is water in the river, right? So, this is also
my place!” said Sura.
Then Sura and Baya fought again. They both hit each other.
Sura bit Baya's tail. Baya did the same thing to Sura. He bit very hard until
Sura finally gave up. He went back to the sea. Baya was very happy. He had his
place again.
The place where they were fighting was a mess. Blood was
everywhere. People then always talked about the fight between Sura and Baya.
They then named the place of the fight as Surabaya, it’s from Sura the shark
and Baya the crocodile. People also put their fight as the symbol of Surabaya
city.
Legenda Surabaya
Dulu di Jawa Timur ada dua binatang yang kuat, Sura dan
Baya. Sura adalah hiu dan Baya adalah buaya. Mereka tinggal di laut.
Sebenarnya, mereka teman. Tapi ketika mereka lapar, mereka sangat serakah.
Mereka tidak ingin berbagi makanan mereka. Mereka akan berjuang untuk itu dan
tidak pernah berhenti berjuang sampai salah satu dari mereka menyerah.
Hari itu sangat panas. Sura dan Baya sedang mencari makanan.
Tiba-tiba, Baya melihat seekor kambing.
"Yummy, ini adalah makan siang saya," kata Baya.
"Tidak mungkin! Ini adalah makan siang. Anda serakah!
Saya belum makan selama dua hari! "Ujar Sura.
Kemudian Sura dan Baya berjuang lagi. Setelah beberapa jam,
mereka sangat lelah. Sura punya rencana untuk menghentikan perilaku buruk
mereka.
"Saya lelah berjuang, Baya," kata Sura.
"Aku juga. Apa yang harus kita lakukan untuk
menghentikan pertempuran? Apakah Anda tahu "tanya Baya.
"Ya, saya lakukan. Mari kita berbagi wilayah kita. Saya
tinggal di air, jadi saya mencari makanan di laut. Dan Anda hidup di darat,
bukan? Jadi, Anda mencari makanan juga di darat. Perbatasan adalah pantai, jadi
kami tidak akan pernah bertemu lagi. Apakah Anda setuju? "Tanya Sura.
"Hmm ... biarkan aku memikirkannya. OK, saya setuju.
Mulai hari ini, saya tidak akan pernah pergi ke laut lagi. Tempatku adalah di
darat, "kata Baya.
Kemudian mereka berdua tinggal di tempat yang berbeda. Tapi
suatu hari, Sura pergi ke tanah dan mencari makanan di sungai. Dia sangat lapar
dan tidak ada banyak makanan di laut. Baya sangat marah ketika ia tahu bahwa
Sura melanggar janji.
"Hei, apa yang kau lakukan di sini? Ini adalah tempat
saya. Tempatmu di laut! "
"Tapi, ada air di sungai, bukan? Jadi, ini juga tempat
saya "kata! Sura.
Kemudian Sura dan Baya berjuang lagi. Mereka berdua saling
memukul. Sura sedikit Baya yang ekor. Baya melakukan hal yang sama untuk Sura.
Dia menggigit sangat keras sampai Surah akhirnya menyerah. Dia kembali ke laut.
Baya sangat senang. Dia memiliki tempat lagi.
Tempat di mana mereka berperang berantakan. Darah di
mana-mana. Orang kemudian selalu berbicara tentang pertarungan antara Sura dan
Baya. Mereka menamakan tempat laga seperti Surabaya, itu dari Sura hiu dan Baya
buaya. Orang juga menempatkan perjuangan mereka sebagai simbol kota Surabaya.
There is a crow who thirst, he was circling low spot for
water to drink. After searching for quite a long time, not a drop of water had
managed to find.
By the time he almost gave up, all of a sudden he saw not
far away there was a bottle which contains water. Crows are very happy, he then
flew to the bottle and stopped right on the bottle. But the water in the bottle
was too little, too small mouth bottle and the bottle neck is very long, if it
is seen more bottle-like shape jug.
However crow tried, beak still can not reach the water.
"How is it, what should I do?" Raven asked herself as she walked
around in circles around the bottle, he finally managed to find a way.
"If I hit the bottle rolled up, I can not drink the
water?" Crows were satisfied with himself, deep down she thinks "as
long as the bottle was broken, I'll be able to drink the water"
Then with feeling confident crow hit the bottle, but bottled
water is too heavy ..
although it has been exerting all his strength, bottle it
does not move at all. Although it has been tried many times, the poor crow was
still not managed to roll the water bottle. Besides thirsty crow too angry. In
the anger crow carrying a rock with his beak, and in disgust he released the
rock hard in the direction of the bottle. Unexpected rock falls right in the
mouth of the bottle and into the bottle.
Crow flew down, he saw the bottle was not cracked at all, he
was very disappointed. However, beyond expectations, crows and carefully
observed that when the stone sinks to the bottom, standing water in the bottle
is higher than ever before. "I've found a way. This time it'll work and I
can drink a" crow's very excited, while berkoak-koak he began to move. He
took a lot of stones and put them one by one into the bottle. Each time the
crow put stones, the water in the bottle will rise slightly upward, slowly the
water in the bottle reaches the mouth of the bottle.
Crow and put its beak into the bottle and drink as much. He
felt that if the water is obtained by pains when drunk was very sweet and
fresh. Crow was so excited, he stood on the edge of the mouth of the bottle
while singing merrily.
The moral: Through this story, we are reminded not easy to
despair despite repeatedly failed because of everything that is obtained from
the business itself is far more fun than giving people the results. So the
brothers, always try and never give yaa ^ _ ^ v
makalah jawa
Tembang Dolanan Tradisional Jawa Saged
Dados Pitutur Kang Becik
A. Pambuka
Tembang dolanan kalebet budaya
tradisi lan salah setunggalipun warisan budaya ingkang adi luhung pantes
dipunuri-uri lan lestantunaken. Tembang dolanan anak inggih lagu ingkang lahir tanpa
bapa ibu, ugi namung awujud lisan utawi tradisi lisan mboten arupi tulisan, lan
kadospundi asal-usulipun lan larah-larahiupun mboten wonten ingkang mangertos.
Tembang dolanan dipun kenal awit namung gethok tular kemawon.
Miturut Wayan Dibia (2000: 47)
wosipun bilih tembang dolanan bagian tradisi lisan ingkang biasa dipun
tembangaken kanthi spontan ing plataran griya, lorong- lorong griyo
utawi ing lapangan. Gandheng wujudipun sastra lisan kathah tembang dolanan
ingkang ewah saking aslinipun, ingkang iwah syairpun awit dipun jumbuhaken
kawentenan utawi daerahipun, nanging lagu/iramanipun rata-rata tasih sami.
Wonten ing TV asring miring tembang dolanan mawi arasemen enggal, benten
kaliyan aslinipun. Miturut Dananjaya (20997) bilih penyebab ewahing tembung ing
tembang dolanan amargi ditum tularaken kanthi lisan, anggenipun mirengaken
mboten sami, lafalipun kirang cetha utawidipun larasaken kaliyan kawontenanipun
jaman. Tembang dolanan sampun turun-tumurun saking simbah-simbah
Ing jaman sakmenika lare balita
kathah ingkang boten mangertos syair utawi permainanipun tembang dolanan, lare
langkung remen nembang lagu-lagu cinta ingkang pantesipun kangge piyantun
dewasa. Kawontenan punika mrihatosaken kita sadaya, jalaran tembang dolanan
namung saget pinanggih ing padusunan. Isinipun tembang dolanan warni-warni,
wonten ingkang arupi pitutur luhur, bab sato kewan, kejujuran, kebersamaan,
tanggungjawab. Pramila perlu kawigatosan ingkang mirunggan, khususipun
tiyang sepuh, awit lare balita wedalipun langkung kathah kaliyan tiyang
sepuhipun tinimbang masyarakat utawi sekolahan. Sakselanipun wedal sesarengan
kaliyan para putra mboten wonten salahipun menawi lare dipun kenalaken kaliyan
budaya Jawi, kadasta tembang dolanan. Wiwit nalika lare sampun saget nirokaken,
prayoginipun tembang dolanan dipun kenalaken dhumateng lare, kados tembang
gundhul-gundhul pacul. Sanadyan tembang dolanan syairipun prasaja namung
isinipun ngemot pitutur luhur tumrapipun lare balita, Dene nalika ngajari,
tiyang sepuh mboten namung mrentahaken lare niru kewala nanging sageta dipun
terangaken maknanipun kajumbuhaken kalian umur lan pengalamanipun.
Tumrapipun lare balita ingkang
sampun sinau ing pawiyatan formal, kados TK, Playgroup, TPA, tembang dolanan
saged paring kontribusi ing bab pembentukan perkembangan kecerdasan
lare, awit lare saget dipunajak apresiasi isining tembang, wujud pentas ing
sakngajengipun kancanipun, mboten namung ngapalaken syair lan lagunipun kemawon
supados saget narik kawigatosanipun lare. Ing mriki tuwuh raos tanggungjawab
saget pentas kanthi leres lan sae, menawi ujudipun kelompok saget nuwuhaken
raos kompak kaliyan kanca.
Punapa malih wonten wigatosan
saking pamarentah arupi lomba utawi show tembang dolanan ingkang pesertanipun
saking kelompok bermain, PAUD, TK lan sakjenispun. Tujuanipun kangge
nglestantunaken warisan leluhur ingkang adi luhung lan tasih trep menawi kangge
tulada ing jaman modern menika.
B. ISI
1.
Tembang Dolanan
Tembang
dolanan ingkang kula kajengaken wonten ing seratan menika lelagoning tembang
(ukara ingkang dipun tembangaken dening manungsa) ingkang susunan tembungipun
bebas mboten terikat deneng aturan kados dong ding /guru lagu, guru
wilangan, jumlah barisipun. Tembang dolanan lare-lare Jawa saget minangka
kangge pitutur luhur trumapipun lare jumbuh kalian umur lan sekolahipun
Tembang dolanan inggih
punika tembang ingkang dipun tembangaken dening lare saget mawi iringan gamelan
utawi alat music , saget mawi gerakan utawi tari lan wonten ugi tanpa gamelan
lan gerakan utawi tari, dene syairipun dipunjumbuhaken kaliyan alam pikiranipun
lare lan khayalanipun lare (Supanto dkk, 1981/1982:27).
Tembang dolanan umumipun
dipun ekspresikan kanthi sikap seneng (gembira), ceria, periang. Sak
liyanipun pitutur, tembang dolanan mujudaken olah seni ingkang sae, trep
kaliyan perkembangan jiwanipun lare. Supados lare balita gampil nyinau lan
enget kaliyan syairipun, boten bosennaken, nalika ngajari lare boten perlu
dipunjlentrehaken isinipun kanthi detail, cekap ingkang prasaja kados
wonten ing syairipun, sandyan wonten ingkang mboten gathuk antawis
tembung-tembung wonten ing tembang dolanan. Benten menawi tembang dolanan
kangge lare SD kelas tiga minggah kedah dipunterangaken kanthi rinci suraosipun
tembang dolanan supados lare mangertos isinipun lan saget kangge tulada ajaran
ingkang sae utawi becik. Menawi namung saktleraman tembang dolanan namung arupi
baris-baris tembung ingkang mboten wonten maknanipun, nanging menawi
dipungatosaken saestu, ngemot: masalah kehidupan ingkang komplek kadosta:
pitutur, agama, masalah lingkungan , budi pekerti, sopan santun. ingkang arupi
sindiran utawi panglulu. Sajatosipun tembang dolanan punika sastra seni ingkang
piawi kangge ulah bunyi asonansi, aliterasi, rima, pepindhan, parikan inkang
nengsemaken manah saengga tembang dolanan minangka ajang kreativitas seni lan
alam pikiran manungsa..
2.
Pawiyatan Lare Balita (PAUD)
Pawiyatan menika proses
ingkang dipun betahaken kangge ngimbangi lan nyekapi kabetahanpun manungsa.
Tujuan pawiyatan samangke sampun sae lancetha inggih menikan minteraken bangsa.
Namung mutunipun pawiyatan gumantung: (1) kurikulumipun lan pelaksanaanipun,
(2) motivasi dhumateng lare (peserta dhidhik), awit mboten namung minteraken
lan trampil ing bab ilmu nanging ugih raos tresna lan hadarbeni dhumateng
ilmunipun, mboten namung ijasah ingkang dipun predi nanging ugi bab penguasaan
ilmu linambaran rasa tresna saengga cak-cakanipun saget murakabi (berguna), (3)
pengenalan metode kreatif, (4) menejemen sekolah lan (5) dukungan ugi kesadaran
masyarakat dhumateng pawiyatan kangge para putra kanthi maksimal. Lare
mbetahaken lingkungan ingkang kondusif kangge perkembangan fisik lan
psikisipun.
Pawiyatan ing seratan menika
namung mligi pawiyatan anak usia dini (PAUD) utawi balita. PAUD saget katempuh
wonten pawiyatan formal kados: TK, TPA, Kelompok Bermaian minangka persiapan
mlebet pawiyatan dasar. PAUD ugi saget dipun adani ing keluarga lan masyarakat.
Lare umur 2-5 tahun sampun ketingal pinteripun,akal positifipun, mletik
gagasanipun, tuwuh emosinipun, tingkah lakunpun jumbuh kalihan tambahing umur.
Pramila lare balita mbetahaken kawigatosan ingkang mirunggan mliginipun bab
perkembangan fisik lan psikisipun lare.
PAUD wadah utawi upaya
pembinaan lare wiwit lahir ngatos umur 5 tahun ingkang dipun siapaken kanthi
sae, dipun gatosaken gizinipun, kesehatanipun, dipun pantau perkembangan jiwa
lan psikisipun. Guru ing pawiyatan PAUD sayektos dipunuji sadayanipun,
kadospundi lare clingus, jirihan dados kendel pinter tanggung jawab ora nakal.
Menika ugi kalebet salah satunggalipun tugas Guru. Bab menika ingkang jalari
kathah tiyang sepuh nglebetaken putranipun balita wonten ing PAUD, playgroup
atau TK. Tiyang sepuh gadhah raos was sumelang mboten saget mengembangkan
kemampuan lare kanthi maksimal.
Peran tiyang sepuh
tumrapipun pawiyatan balita penting sanget, awit penapa ingkang dipun sawang,
mirengaken, raosaken kanthi ginakaken pancaindra anak langsung kesimpen ing
otakipun. Pramila sikap, ucap lan patrap tiyang sepuh utawi tiyang ing
lingkunganipun dipun pelajari lan dipun tiru. Tiyang sepuh minangka guru
pertama kanggene lare balita. Tiyang sepuh dados pewarna hatinipun lare ingkang
putih bersih, Pakulinan ingkang sae tiyang sepuhipun lan lare dipun
arahaken tumindak sae hasilipun ugi sae. Namung kathah tiyang sepuh mboten
gadah program utawi kurikulum ingkang gumathok tundhonipun lare bebas wonten
ngajeng TV nyimak acara-acara TV tanpa pendampingan tiyang sepuhipun, hasilipun
punapa kemawon tayang ing TV lare apal awit asring jinglengi TV, kadasta lagu
Cinta satu malam, salah alamat, tinimbang tembang ilir-ilir, cublak-cublak
suweng. Malah kathah tembang dolanan isinipun langkung sae tinimbang lagu pop
ing wedal menika. Lare nalika dipunajari tembang dolanan asring taken tembung
ing tembang nanging rikala nyimak lagu pop lare gampil apalipun. Sampun
wancinipun dene tiyang sepuh ngenalaken budaya Jawi ingkang adiluhung kados
tembang dolanan, dongeng, unggah ungguh basa. Ngajari tembang dolanan dhumateng
lare balita kedah cetha lan mboten paksaan. Menawi kedah dipun peragakaken mawi
tarian utawi gerakan tangan, tiyang sepuh kedah saget ngira-ngira dipun
jumbuhaken kaliyan umuripun, lan dipunterangaken sacekapipun.
3.
Guna lan Paedahipun Tembang
Dolanan minangka Saran Pendidikan Lare Balita
Rikala alitan kula tembang
dolanan asring dipun tembangaken kalian kanca sakbarakan ing wayah sonten utawi
bakda Magrib menawi wanci padhang bulan. Tembang dolanan ing jaman samanten
menika kangge hiburan, awit TV tasih awis-awis ingkang gadhah, benten kaliyan
jaman samenika, lare remen piyambakan dolanan playstation. Malah ing TK ngantos
SMP tembang dolanan dipunajaraken dening bapak ibu guru, ing wanci ngaso
sebagian lare sami dolanan lan nembang jamuran, tembang donanan menika lucu lan
mendidik, ing tembang dololanan utawi lelagon jamuran dipun tidakaken lare 5
-6, sadereng kawiwitan wonten aturanipun pramila pemain lan ingkang dadi kedah
manut aturan, lajeng dipun wiwiti hompimpah, ingkang dados wonten ing tengah
lingkaran. Tembang jamuran ngemot suraos kerukunan, kejujuran, patuh aturan
ingkang dipun tetepaken sesarengan.
Paedah lan pigunanipun
tembang dolanan (fungsi tembang dolanan) kangge lare balita benten kalihan
kangge lare umur 6 tahun minggah. Ing seratan menika kula namung ngrembang
fungsinipun tembang dolanana kangge lare balita.
Tembang dolanan ingkang
mawi permainan utawi namung nembang kewala, manfaatipun kangge ngajari (ndhidhik)
olah raos pribadi kaliyan tiyang sanes (setia kawan), disiplin, tertib,
waspada, kreatif, kritis, keteraturan. Intinipun tembang dolanan minangka
sarana pendidikan; dados media pitutur (pesan moral) tiyang sepuh dhumateng
para putra, saget ngremenake lare balita awit raos bingah saget ningkataken
akal budinipunn (jiwa anak), sanajan namun niru, lare dipun paringi kebebasan
kangge berkreasi jumbuh kaliyan perkembangan jiwanipun, awit
lare gampil nampi bab enggal pramila tembang dolanan ingkang dipun ajaraken
ingkang ngandhut pitutur luhur, sampun ngantos dipun ukum (dadi) kewala nadyan
kedah dadi, perlu dipun menangaken awit raos menang dados kebanggaan seben lare
(merangsang emosi positif) jalaran saget nindakaken tanggungjawabipun.
Salajengipun badhe kaandaraken guna lan paedahipun tembang dolanan kangge
Balita.
a.
Kangge seneng-seneng (hiburan)
Tembang
dolan utawi nyanyian rakyat minangka sarana rekreasi, hiburan, lan
seneng-seneng. Miturut Dananjaya(1997: 152:153):
Lagu
dolanan sebagai nyanyian rakyat berfungsi rekreasi, yaitu untuk melepaskan diri
dari kebosanan hidup sehari-hari atau hiburan diri dari kesukaran hidup,
sehingga dapat pula menjadi pelipur lara atau untuk melepaskan diri dari
ketegangan perasaan sehingga memperoleh kedamaian jiwa.
Adhedhasar pamanggih menika, intinipun tembang dolanan saget kangge
nglipur ati ingkang nembe suntuk, kangge ngenggar-enggar manah, hiburan diri
pribadi utawi seneng-seneng saengga pikantuk katenangan batin. Menggahing lare
Balita tembang dolanan minangka hiburan utawi seneng-seneng sesarengan tiyang
sanes (saget tiyang sepuhipun, sedherekipun utawi kancanipun), malah nalika
lare nangis tembang dolanan saget dadosaken lare mendel. Kadasta tembang
Jaranan, Menthok-menthok. Nalika ngajari nembang ginaaken paraga utawi jogetan,
lare balita badhe nggatosaken kanthi permati lan niru saksagetipun, malah saget
lakak-lakak awit lucu lan ngremenaken. Tembang jaranan mawi jaranan saking
debok utawi kayu sakwontenipun malah kadangkala mawi guling alit. Cakepanipun
makaten:
Jaranan-jaranan… jarane jaran teji
Sing numpak ndara bei
Sing ngiring para mantri
Jeg jeg nong .. jeg jeg gung
Prok prok turut lurung
Gedebug krincing gedebuk krincing
Prok-prok gedebug jedher
Nalika
ngajari mawi permainan (joget kados jogetan jaran kepang), lare dherek joget
nirokaken, lan sasaged lare badhe berusaha persis kaliyan gerakan lan
lagu ingkang ngajari. Pas prok-prok gedebug jedher, jaran (alat peraga) dipun
lepasaken lare tentu lakak-lakak awit jaranipun dhawah utawi nabrak.
Cakepan
tembang menthok-menthok:
Menthok,
menthok, tak kandani
Mung
lakumu, angisin-isini
Mbok
yo ojo ngetok, ono kandhang wae
Enak-enak
ngorok, ora nyambut gawe
Menthok,
menthok … mung lakumu
Megal-megol
gawe guyu.
Tembang menthok-menthok kalebet tembang lan permainan. Ingkang umum
dipun peragakaken langkung saking setunggal. Nalika kita ngajari lare balita,
langkung prayogi mawi tarian niru menthok, badan dipun bungkukaken sekedhik,
tangan setunggal ing pinggul kados buntut lan setunggal ing ngajeng dados
cucuk. Lajeng lampahipun megal-megol. Rikala nembang gerakan tangan dipun
jumbuhaken kaliyan syairipun supados lare pikantuk gambaran solah bawanipun
menthok. Sasampunipun kita jarwani maksudipun, ingkang positif saget kangge
tulodho dene ingkang kirang prayogi utawi awon dipun bucal. Kanthi makaten
kajawi lare dados remen ugi ningkataken olah rasanipun (menumbuhkan kreativitas
berfikir).
1)
Ajaran moral
Tembang
siji
loro telu...
astane sedeku.....
mirengake pak guru,
menawi di dangu....
papat, nuli limo....
lenggahing sing toto....
ojo podo sembrono,
mundak ora biso
astane sedeku.....
mirengake pak guru,
menawi di dangu....
papat, nuli limo....
lenggahing sing toto....
ojo podo sembrono,
mundak ora biso
Rikala tembang menika dipun tembangaken lare TK,
syair lan sikapipun lare sampun jumbuh. Tegesipun sasampunipun lare rampun
anggenipun nembang patrapipun sami anteng, tangan sedheku wonten meja sami
migatosaken bu guru mucal lan menawi dipun dangu lare ngacung, sanadyan kadang
kala jawabnipun lepat. Miturut Bu Endang guru TK Nusa Indah gegayutan bab basa
lan budaya Jawa dipunajaraken saben dinten Sabtu. Dene tembang ingkang dipun
ajaraken ingkang ngemot pitutur luhur, maksudipun nalika nembang tembang dolanan
lare nirokaken bu guru lan dipun wongsal-wangsuli sak-sampunipun rampung guru
nerangaken tegesipun, ingkang sae saget kangge tulada, dene ingkang boten sae
dipun bucal, kadas dene tembang siji loro telu. Lare dipun terangaken
tegesipun. Wonten ing tembang siji loro telu ngemot ajaran moral ingkang adi
luhung, lare mboten umyeg piyambang utawi bengok-bengok. Sanesipun tembang
menika ugi ngajari bab masalah angka lan urut-urutanipun, lare patuh mboten
wonten ingkang nyobi ngewahi urutanipun.
Semanten ugi tembang menthok-menthok, ngemot
pitutur inggih punika panglulu. Kadospundi lare balita mboten nampi napa
wontenipun, mboten keset utawi tilem kewala, malah kumalungkung (lakune
megal-megol) sajak ngece. Pramila peran guru nalika ngajari tembang dolanan langkung
prayogi dipun kantheni surasanipun tembang,lan dipun terangkan ajaran ingkan
sae pantes dipun tindakaken .
2)
Kawruh
ngenalaken lingkungan flora lan fauna.
Tembang dhondhong apa salak, kodhok ngorek, kidang
talun, aku duwe pitik cilik, gajah belang, kupu kuwi,
kalebet tembang ingkang woten gayutipun kaliyan lingkungan flora lan fauna.
Sanajan surasaning tembang benten-benten, namung saking judulipun lare saget
mangertos lingkungan hidup ingkang asring dipun panggihi lan saget bedakaken
setunggal lan setunggalipun. Wonten pawiyatan formal, peran guru
wigati sanget awit boten namung ngajari lan dhawuh nirokaken lare ugi kedah
nerangaken tegesipun tembang lan saget nuwuhaken raos remen dhumateng lare.
Kanthi makaten lare saget bebas berkreasi.
Wonten ing sekolah radi gampil nerangaken tegesipun
tembang awit sampun wonten alat peraganipun. Menawi ing keluarga, tiyang sepung
utawi sedherek sepuh menawi ngajari prayogi cetha menawi perlu mawi gambar,
tembang ingkang dipun ajaraken inggih tembang ingkang saget kangge tulodho,
awit lare badhe nirokaken punapa ingkang sampun dipun mirengaken. Ugi kedah
siap menawi wonten pitakenan lare, punapa malih menawi ngajari nembang lare
ingkang dereng sekolah.
3)
Nuwuhaken
Raos kerukunan lan jujur
Tembang dolanan ingkang ngemot raos kerukunan
utawi kebersamaan wonten ing tembang jamuran. Jamuran saking tembung
jamur wujudipun bunder ingkang gambaraken tekat bersatu, awit rikala
nembangaken tembang jamuran bentukipun lingkaran, mubeng lan sami gandengan.
Nilai rukunipun lare boten badhe ngeculaken gandenganipun rikala nembang.
Sasampunipun rampung nindakaken kewajibanipun kados ing jawaban pitakenan,
upami dipun jawab jamur parut, pramila ingkang dadi padhe ngithik-ithik
dlamakanipun para paraga ingkang dipun angkat ngantos paraga guyu, awit
salaminipundipun ithik-ithik kedah nahan guyu/ mendel. Dene cakepanipun tembang
jamuran makaten:
Jamuran…ya
ge ge thok...
jamur apa ya ge ge thok...
Jamur payung, ngrembuyung kaya lembayung,
sira badhe jamur apa?
jamur apa ya ge ge thok...
Jamur payung, ngrembuyung kaya lembayung,
sira badhe jamur apa?
Semanten ugi ing tembang cublak-cublak suweng, para
paraga anggenipun jagi kerukunan saestu saget dipun pitados, awet sasampunipun
rampung nembang ingkang dadi lajeng nebak sinten ingkang mbeta krikil kanthi
nyawang paraga setunggal baka setunggal, menawi wonten ingkang nyala wadi
lajeng dipun tebak beta krikil, dene para paraga sami mendel sanajan mangertos
sinten ingkang beta krikil. Ing mriki sampun tuwuh kejujuran awit boten ingkang
tumindak curang kanthi nudhuhaken sinten ingkang beta. Ugi nilai kerukunan
katanemaken. Kanggenipun lare balita saderengipun wiwit dipun terangaken menawi
ingkang beta krikil boten angsal dipun tedahaken. Lan lare gadhahi sifat patuh
lan jujur badhe tunduk kaliyan aturan ingkang sampun dipun weling. Dene
cakepanipun tembang cublak-cublak suweng:
CUBLAK-CUBLAK SUWENG
cublak cublak suweng.. suwenge ting gelenter..
mambu ketundung gudel
pak empong lera-lere
sopo ngguyu ndelikkake
sir-sir pong dhele gosong
sir sir pong dhele gosong
cublak cublak suweng.. suwenge ting gelenter..
mambu ketundung gudel
pak empong lera-lere
sopo ngguyu ndelikkake
sir-sir pong dhele gosong
sir sir pong dhele gosong
Sanesipun piwulang kerukunan, wonten ing tembang cublak-cublak suweng ngemot nilai kejujuran. Rikala kita ngajari dipun terangaken mboten pikantuk ngandhani sinten ingkang beta krikil. Menawi ngandhani, dados piyambak, awit sampun dumindak curang. Kanggenipun lare umur balita anjuran punika dipun patuhi.
4)
Nuwuhaken
emosi lan berpikir kreatif
Ngajari tembang dolanan tumrap lare balita sami kaliyan
nglatih berkreasi lan nuwuhaken emosi positif. Ujudipun sak sela-selanipun
nembang lare badi pitaken jumbuh kaliyan umur lan pengalamanipun. Kadas rikala
ngajari tembang Aku duwe pitik cilik, ingkang wetahipun makaten:
Aku duwe pitik cilik
Wulune brintik
Cucuk kuning cengger abang
tarung mesthi menang
Sapa wani karo aku mungsuh pitiku
Salebetipun ngajari tembang punika, lare pitaken
“pitik kok wulune brintik, aneh bude kuwi?’ pitaken punika wajar awit lare
ingkang dipun ajari rambutipun brintik, lan lare gadhah pitik namung wulunipun
mboten brintik. Rumaos dereng nate mangertos pramila dipun anggep aneh menawi
wonten pitik kok brintik. Ing mriki sampun ketawis bilih lare punika kreatif
lan tuwuh emosi keingintahuannya bab ingkang dereng dipun mangertosi
utawi benten saking wawasanipun lare.
Semanten ugi tembang Tembang dolanan
Sluku-sluku Bathok
Rikala
lare-lare kula ajari nembang sluku-sluku bathok wonten pitakenan makaten:
Lare
1: sikile napa gatel, kok diusuk-usuk ?
Lare 2
: Si Rama omahe Sala ta Budhe ?
Lare 3
: Oleh-olehe kok payung ta ?
Lare 1
: Sinten sing mati ?
Lare 1
: golek dhuwit nggo jajan ?
Kanthi
pitakekan ingkang boten kinira makaten, ribet anggen kula badhe jawab jalaran
ingkang pitaken kala wau lare umur kirang langkung 3 tahun. Pramila kula jawab
kanthi negesi saben tembung kula jumbuhaken kaliyan kawontenan. Gandheng
wedal nembang sesarengan dereng sami adus pramila kula terangaken menawi suku
punika kedah dipun gosok-gosok supados resek, punapa malih mangke pas adus
kedah dipun kosoki. Pitaken lare 2; kula terangaken menawi Si Rama kesah
dhateng Solo. Solo ingkang wonten reca Gladakipun, ingkang woten kratonipun.
Lajeng oleh-olehipun payung supados boten kepanasen utawi kodanan. Pas
pitakenan Sinten sing mati, kula jawab tiyang, lajeng taken
malih tiyang sapa, lajeng kula jawab tiyang sepuh sanget (jawaban
menika njih namun sak kecekele supados mboten dipun oyak pitaken malih). Lajeng
pitaken pungkasan kula jawab tiyang sehat kados kula kedah pados arta, boten
pareng keset, pikatuk arto kangge tumbas susu, klambi, sepatu, buku, bayar
sekolah, ditabung lan sak panunggalanipun, dados boten kangge jajan kemawon.
Kanthi jawaban makaten lare dados mangertos masalah reresik awak /kebersihan,
kutha Sala, ginanipun payung, lan pikatuk arto mboten namung kangge jajan
kemawon, saget kangge nyekapi sanesipun lan ugi ngenalaken masalah nabung.
Kanthi
ngajari nembang dolanan saget nggugah gagasan lare-lare ingkang gambaraken
umuripun, paling mboten saget macing berpikir kreatif, raos pingin
mangertos babagan ingkang nembe dipun mirengaken. Menawi bab tembang dolanan
kangge lare umur 5 tahun minggah tentunipun anggenipun nerangaken menawi woten
pitakenan tentunipun benten sami kalihan lare balita. Tambah umur lan pasinaun
anggenipun nerangaken dipun selarasaken kalian umur lan sekolahipun.
5)
Nuwuhaken
sifat kendel
Tembang dolanan saget nuwuhaken sifat kendel
tumrapipun lare balita. Awit lare balita umumipun clingus, menawi dipun dangu
mendel kewala, nanging nenawi ing keluarga sampun asring dipun ajari nembang
(tembang dolanan), dongeng, lare dados kendel. Ing wiwitan lare namung nyimak syairipun,
nyawang caranipun nembangaken, lajeng niru nadyan kadang kala lepat. Nalika
lare lepat syairipun utawi kirang pener caranipun, kita prayogi ngelengaken.
Cara punika saget nuwuhaken sifat kendel. Dangu- dangu lare badhe nembang
piyambak malah kadang kala ajak-ajak kancanipun utawi tiyang sepuhipun. Dene
menawi lare sampun sekolah TK, rikala dipun dhawuhi gurunipun lare badhe maju
lan nindakaken dhawuhipun guru. Tulada tembang ingkang saget nuwuhaken sifat
kendel:
Gundul Pacul
Gundul gundul pacul cul tempelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul gentelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Gundul gundul pacul cul tempelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul gentelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
.
Ing tembang menika langkung prayogi menawi rikala ngajari mawi peragaan utawi gerakan tangan ingkang ngambaraken tembang punika, kadosta tangan kalih nyepengi sirah, kanthi glelang-gleleng sajak kemaki. Lare badhe nyimak lan nyawang, sasampunipun rumaos saget badhe nirukaken.
Ing tembang menika langkung prayogi menawi rikala ngajari mawi peragaan utawi gerakan tangan ingkang ngambaraken tembang punika, kadosta tangan kalih nyepengi sirah, kanthi glelang-gleleng sajak kemaki. Lare badhe nyimak lan nyawang, sasampunipun rumaos saget badhe nirukaken.
Semanten ugi ing temabang Kidang Talun, kanthi
nangkupaken tangan tengen ing tlapakipun tangan kiwa , jempolan kekalihpun
dipun tegakaken minangka kupingipun kidang , driji tangan tengen dipun
gerakaken minggah medhun kados kidang nembe ngemil utawi gayemi. Nalika
nembangaken kanthi gerakan tangan tuwuh ayang-ayang kadas kidang. Ing mriki
lare berusaha supados tanganipun saget kados kidang sami kaliyan contonipun.
Lare nyobi lan nyobi ngantos saget, nalika saget tuwuh raos mongkok lan kendelipun,
lajeng nyobi ngantos medal bayanganipun.
KIDANG TALUN
Kidang talun
mangan gedang talun
mil kethemil...mil kethemil...
si kidang mangan lembayung
Kidang talun
mangan gedang talun
mil kethemil...mil kethemil...
si kidang mangan lembayung
6)
Nuwuhaken
raos asih
Tumrapipun tiyang sepuh ingkang kathah padamelan
ing kantor utawi usahanipun maju, wedal kangge para putra kirang nyekapi.
Pendidikan lan ngopeni lare dipun pasarahaken beby sisteripun utawi
pembantunipun. Namung kala-kala sok dulang lare. Benten tumrapipun ibu rumah
tangga ingkang mboten sibuk ing jawi griya, kathah wedal saget sesarengan
kaliyan para putra. Hubungan tiyang sepuh lan lare saget katindakaken
sawanci-wanci, bentuk lan caranipun maneka warna gumantung tiyang sepuh lan
larenipun. Makaten ugi bab tembang dolanan, saget nuwuhaken remaketing raos
asih, nalika tiyang sepuh piawi anggenipun ngajari, jalari lare pingin mangsuli
lan ajar nembang malih. Malah tembang dolanan saget ngalihaken perhatian anak
nalika anak rewel nyuwun sesuatu, nalikanipun lare sampun wancinipun tilem
nanging mboten tilem-tilem, tembang dolanan ingkang dipun tembangaken tiyang
sepuh saget nilemaken lare, kados tembang ilir-ilir, tak lela lela ledung.
Kanthi cara makaten lare rumaos langkung dipun gatosaken.
Adedhasar
andaran ing ngajeng nilai piwulang ing tembang dolanan karingkes dados tiga
inggih menika:
a)
Nilai afektif.
Tembang dolanan sifatipun seneng-sengeng mliginipun kangge
lare balita lan dipun tidakaken kelompok, mawi permainan utawi tarian, ngajari
lare bersosialisasi kalian tiyang sanes, ugi nuwuhaken jiwa seni, sanajan blero
lare budidaya saget nembangaken miturut cengkokipun piyambak, ing mriki lare
sampun mangertos bab nada, nuwuhaken kejujuran, kekompakan,
kebersamaan ( tembang jamuran lan cublak-cublak suweng) , patuh dhumateng
aturan igkang sampun dipun ajaraken dening tiyang sepuh, guru utawi sedherek
sepuh ingkang ngajari tembang dolanan kados ing tembang cublak-cublak suweng
ingakang kawiwitan hompimpah kangge nentokaken sinten ingkang dadi, lajeng
ingkang dadi mengkurep ing pangkonipun tiyang sepuh utawi salah satunggalipun
paraga, para paraga nglumahaken tlapakipun ing gegeripun ingkang dadi lajeng
krikil dipun puter, kadang kala krikil mboten dipun pindah ngantos tembang
rampung, sasampunipun rampung ingkang dadi lajeng nebak sinten ingkang beta
krikil kalawau. Ing mriki tuwuh kejujuran, kekompakan, kebersamaan
awit mboten wonten ingkang curang kanthi nedahaken sinten ingkang beta
krikilipun.
b)
Nilai kognitif
Nilai kognitif ing tembang dolanan wiwit nalika lare-lere
dipun ajari nembang ngantos saget nirokaken. Tegesipun lare balita nyawang,
ngrukokake syairipun, nirokaken caranipun nembangaken, lan ngemut-emut
akhiripun dados ngertos lan hafal syairipun lan gerakanipun, malah saget
nindakaken. menika kawastanan proses belajar, lan dipun tindakaken
kanthi raos remen (seneng). Tuwuh raos ingin tahu, lare badhe
ngeling-eling tembang ingkang dipun ajaraken lan nuwuhaken daya ingat,
lare bade mikir lan saget mrentah kancanipun supados nindakaken punapa ingkang
dipun prentah. Mliginipun lare ingkang dadi damel stategi utawi cara supados
mboten dadi malih, kanthi teliti lan ngati-ati nyimak ingkang dipun tidakaken
dene paraga, sak sampunipun rumaos yakin lare ingkang dadi bade nebak lan
tumindak supados salah setunggaling paraga saget kagodha.
Rikala lare balita dipun ajari nembang, bab-bab ingkang
dereng nate dipun mirengaken, tuwuh rasa ingin tahu, akhiripun wonten
pitakenan kadosta: apa katene nakal kok dipanah, yen mati piye. (
Kate-kate dipanah), awit ing tembang menika mboten wonten katrangan
salajengipun bab kate.
c)
Nilai Motorik,
gegayutan kalian kekuatan fisik, khususipun rikala nembangaken tembang
dolanan ingkang mawi gerakan utawi tarian. Nilai kekuatan motorik ing tangan
lan suku. Kangge lare balita inggih menika saking usahanipun anggenipun
nindakaken aturan, kadosta rikalan nembang jamuran kanthi kelompok, salaminipun
nembang tansah gegandhengan nglatih kekuatan otot tangan kangge nahan
gandhengan supados mboten pedhot jalaran ulahipun ingkang dadi, dene otok suku
kangge mlajar ngimbangi playunipun ingkang dadi.
C.
Panutup
1.
Tembang
dolanan tasih relevan ing jaman modern kados sakmenika, awit isinipun ngemot
pitutur luhur Jawi, kangge seneng-seneng (hiburan), ngemot ajaran moral, kawruh
ngenalaken lingkungan flora lan fauna. nuwuhaken raos kerukunan lan jujur,
nuwuhaken emosi lan berfikir kreatif, nuwuhaken sifat kendel, lan nuwuhaken
raos asih .
2.
Tembang
dolanan mujudaken perkenalan budaya jawi, kados oleh seni, nada dhumateng lare
balita.
3.
Tiyang sepuh
utawi lingkungan langkung prayogi ngajari tembang dolanan ingkang tembungipun
prasaja, bebas tanpa aturan ingkang gumathok, lan nerangaken maknanipun ingkang
dipunjumbuhaken kaliyan umur lan perkembangan jiwanipun
Buku Wacan
Akhmad MuhaimiAzzet, 2011. Urgensi Pendidikan
Karakter di Indonesia.Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Dwijawijata. 2006 .Tembang Dolanan (titilaras:
Solomisasi), Edisi revisi. Semarang. Penerbit Kanisius
James Dananjaja. 1997. Foklor Indonesia.
Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Supanto, dkk (tim). 1981/1982. Sejarah dan
Budaya (Seri: Folklore). Balai Penelitian Sejarah dan Budaya Yogyakarta.
the crow and the bottle
THE CROW AND BOTTLE
There is a crow that
thirsts, he was circling low spot for water to drink. After searching for quite
a long time, not a drop of water had managed to find.
By the time he almost
gave up, all of a sudden he saw not far away there was a bottle which contains
water. Crows are very happy, he then flew to the bottle and stopped right on
the bottle. But the water in the bottle was too little, too small mouth bottle
and the bottle neck is very long, if it is seen more bottle-like shape jug.
However crow tried,
beak still can not reach the water. "How is it, what should I do?"
Raven asked herself as she walked around in circles around the bottle, he
finally managed to find a way.
"If I hit the bottle rolled up, I cannot drink
the water?" Crows were satisfied with himself, deep down she thinks
"as long as the bottle was broken, I'll be able to drink the water"
Then with feeling
confident crow hit the bottle, but bottled water is too heavy.
Although it has been
exerting all his strength, bottle it does not move at all. Although it has been
tried many times, the poor crow was still not managed to roll the water bottle.
the crow very very thirsty
In
the anger crow carrying a rock with his beak, and in disgust he released the
rock hard in the direction of the bottle. Unexpected rock falls right in the
mouth of the bottle and into the bottle.
Crow flew down, he saw
the bottle was not cracked at all, he was very disappointed. However, beyond
expectations, crows and carefully observed that when the stone sinks to the
bottom, standing water in the bottle is higher than ever before. "I've
found a way. This time it'll work and I can drink a" crow's very excited,
while screchinghe
began to move. He took a lot of stones and put them one by one into the bottle.
Each time the crow put stones, the water in the bottle will rise slightly
upward, slowly the water in the bottle reaches the mouth of the bottle.
Crow and put its beak
into the bottle and drink as much. He felt that if the water is obtained by
pains when drunk was very sweet and fresh. Crow was so excited, he stood on the
edge of the mouth of the bottle while singing merrily.
The moral: Through this story, we are reminded not
easy to despair despite repeatedly failed because of everything that is
obtained from the business itself is far more fun than giving people the
results. So the brothers, always try and never give up
Name :Eva Novitalia
Class :XII SCIENCE 1
Absent : 9
Address : Randumuktiwaren- Bojong
Hoby : do something with my PC
surat masa depan
Bandung,
13 Maret 2020
Yth. Wiwiek
Septiani, S.Pd
Pekalongan
Assalamualaikum
wr.wb.
Bagaimana
kabar ibu sekarang? Semoga baik-baik saja. Saya murid ibu di kelas XII IPA 1
tahun ajaran 2011/2012. Mungkin saya termasuk murid yang nakal waktu itu.
Sekarang
saya telah bekerja pada perusahaan EMCO. Panjang ceritanya hingga saya dapat
bekerja di sana. Suatu keajaiban bahwa saya dapat bekerja di sana. Tidak pernah
sedikitpun terbayang oleh saya bahwa saya akan bekerja di sana. Sebulan yang
lalu saya diangkat sebagai manager personalia. Dari rencana hidupku, posisi ini
adalah pencapaian tertinggi saya dalam dunia kerja. Setelah pencapaian ini,
saya berencana untuk segera melangsungkan pernikahan saya.
Setelah
lulus SMA, saya melanjutkan di ITB. Saya benar-benar tidak menyangka dapat
diterima di sana. Padahal, saya sempat putus asa saat saya tidak menemukan nama
saya di daftar penerima bidikmisi 2012. Namun , saya sangat beruntung karena
memiliki seorang sahabat yang mampu menyemangati saya saat saya benar-benar hilang
arah. Ia selalu dan selalu menghibur dan menyemangati saya bahwa saya masih
memiliki kesempatan agar dapat memasuki kampus ITB yaitu melalui SNMPTN tulis.
Dia selalu menyemangati saya, tidak pernah merasa bosan-bosan. Akhirnya, saya
berangkat juga. Waktu itu saya mengikuti SNMPTN tulis dengan hati yang tidak
berharap banyak. Saya mengikuti kemaunannya dan mengikutinya hanya merasa untuk membalas budi
baiknya kepadaku.
Pada
waktu itu saya memilih lokasi di semarang. Berbekal tekad yang kuat, saya
berangkat dengan diantarkan sahabat saya. Sepanjang perjalanan, dia terus
menyemangati saya dengan kata-kata yang
membangun jiwa. Sesampainya di lokasi ujian, ia mengarahkan saya ke
ruangan dimana saya akan melaksanakan ujian tertulis tersebut. Ternyata, sebelum
saya datang ke tempat tersebut dia
telah survei terlebih dahulu. Saya
memasuki ruang tes dengan tenang. Ketika lembar soal dibagikan, jantungku
berdegub kencang. Saya mulai membaca satu per satu soal yang ada. Soal yang ada
benar-benar membuatku panik. Saya tidak menguasai materi yang diujikan.
Berkali-kali saya mencoba mengerjakan namun tetap tidak ketemu hasilnya. Hampir
60% saya tidak dapat menemukan jawaban dari soal tersebut. Saya hanya berdoa
agar Tuhan memberi keajaiban kepada saya. Saya benar-benar putus asa. Saya
berjalan lemas saat saya keluar dari ruangan test tersebut. Saya tidak mampu
memandang sahabat saya yang rela mengantar dan menyemangati saya. Dia menunggu
di bawah pohon dengan penuh harap. Melihat sikap saya saat keluar dari ruangan
tes, ia langsung menghampiriku dan menanyakan bagaimana saya mengerjakan test
tersebut. Melihat saya hanya diam dan hanya memandangnya dengan tatapan yang
seolah mengatakan “ Aku gagal “ dia tak membahas
hal itu lagi. Dia menghiburku dengan mengajak saya keliling Kota Semarang.
Suasana hati saya sedikit terhibur dengan keindahan kota ini dan canda tawa
yang keluar dari sahabat saya. Di perjalanan pulang, ia kembali menyemangati
saya. Saya merasa mendapat energi positif kembali dan memicu semangat juang
saya yang hampir mati.
Hari
kedua tes SNMPTN tulis, entah apa yang saya pikirkan. Saya merasa sudah sangat
siap untuk menerima kenyataan bahwa aku tidak akan diterima disana. Saya datang
ketempat ujian dengan di antar sahabatku lagi. Namun kali ini saya datang hanya
untuk menghargai usaha sahabatku yang selama ini telah menyemangatiku dan
membantuku berulang kali. Saat hari pengumuman tiba, sungguh tidak
disangka-sangka, saya lolos dan berhasil memasuki kampus ganesha tersebut.
Saya
melihat sahabatku sampai meneteskan air mata bahagianya saat melihat bahwa saya
lolos seleksi. Kami berdua merayakannya dengan makan di salah satu restoran di Semarang.
Saya sangat bersyukur kepada Tuhan yang telah mengabulkan permohonanku dan
telah mengirimkan sahabat sebaik dia kepada saya.
Seminggu
kemudian, dia datang ke rumah saya untuk mengajaku mencari tempat tinggal di
Bandung. Tapi saya pikir, saya ingin tinggal di pesantren saja. Disamping
kuliah, saya dapat mendapat ilmu agama sebagai tambahan. Kebetulan, dia tahu
tempat yang cocok. Ia mengajak saya ke tempat saudaranya yang mempunyai kenalan
yayasan pondok pesantren di Bandung. Akhirnya, saya akan tinggal di pesantren
selama saya kuliah di Bandung.
Alhamdulillah ,Saya
wisuda tepat waktu, saat itu sahabatku menghadiri acara tersebut.saya tidak
menyangka setelah acara tersebut selesai, dia datang ke rumahku untuk melamar
saya. Dengan pertimbangan orang tua, saya menerimanya. Kami akan melangsungkan
pernikahan kami pada bulan oktober nanti. Maka dari itu, saya sangat terhormat
apabila ibu bersedia datang pada acara pernikahan kami. Waktu saya kembali ke
Pekalongan saya bertemu dengan teman sahabat lama saya. Ternyata banyak yang
telah menjadi orang sukses. Seperti Diyah Fatwati Arifah, Khotimatus Sholihah,
Maria Ulfah. Diyah sekarang telah menjadi psikolog, Khotimatus telah menjaji
guru di salah satu SMA swasta dan sekarang masih hamil tujuh bulan, sedangkan
Maria sudah mempunyai calon tunangan. Saya bertemu dia saat mencari buku di
Smarang. Dulu waktu kami masih duduk di kelas XII, kami sering membicarakan
ibu. Kami sangat mengidolakan sikap keibuan ibu. Sekian surat dari saya,
apabila ada salah kata mohon dimaafkan
Wassalamu’alaikum
wr.wb.
Salam hormat saya,
Eva Novitalia

Nama
: Eva Novitalia
Alamat : Ds.Randumuktiwren, Rt 03/Rw 01
no.78
Bojong-
Pekalongan
E-mail : ji_epha@rocketmail.com
Tampat, Tanggal lahir : Pekalongan, 06 Oktober 1994
Langganan:
Postingan (Atom)